Google Translete

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Perhatian :

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR Muslim no. 2674).

Selasa, 09 Agustus 2011

Abu Dawud

Nama lengkap Abu Dawud ialah Sulaiman bin Al-Asy’as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar Al-Azdi As-Sijistani. Ia adalah imam dan tokoh ahli hadits, serta penulis kitab Sunan Abu Dawud. Abu Dawud dilahirkan tahun 202 H di Sijistan. Sejak kecil Abu Dawud sangat mencintai ilmu dan sudah bergaul dengan para ulama untuk menimba ilmunya.

Sebelum dewasa, dia sudah mempersiapkan diri untuk melanglang ke berbagai negeri. Dia belajar hadits dari para ulama yang ditemuinya di Hijaz, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Sagar, Khurasan dan negeri lainnya. Pengembaraannya ke beberapa negeri itu menunjang dia untuk mendapatkan hadits sebanyak-banyaknya. Kemudian hadits itu disaring, lalu ditulis pada kitab Sunan.

Abu Dawud sudah berulang kali mengunjungi Baghdad. Di kota itu, dia mengajar hadits dan fiqih dengan menggunakan kitab Sunan sebagai buku pegangan. Kitab Sunan itu ditunjukkan kepada ulama hadits terkemuka, Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad bin Hanbal pun memuji kitab tersebut. Sunan Abu Dawud adalah salah satu kitab hadits terkemuka yang disusun oleh Imam Abu Dawud. Kitab ini memuat 4.800 hadits terseleksi dari 50.000 hadits.

Abu Dawud telah berkecimpung dalam bidang hadits sejak berusia belasan tahun. Hal ini diketahui mengingat pada tahun 221 H, ia sudah berada di Baghdad, pusat dan metropolitan ilmu. Setelah itu, ia mengunjungi berbagai negeri untuk memetik langsung ilmu dari sumbernya.

Abu Dawud menimba ilmu selama bertahun-tahun. Di antara guru-gurunya adalah Imam Ahmad bin Hambal, Al-Qa’nabi, Abu Amr Adh-Dhariri, Abu Walid Ath-Thayalisi, Sulaiman bin Harb, Abu Zakariya Yahya bin Ma’in, Abu Khaitsamah, Zuhair bin Harb, Ad-Darimi, Abu Ustman Sa’id bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah dan lain-lain.

Adapun murid-murid Imam Abu Dawud antara lain Abu Isa At-Tirmidzi, Abu Abdur Rahman An-Nasa’i, putranya sendiri Abu Bakar bin Abu Dawud, Abu Awana, Abu Sa’id Al-Arabi, Abu Ali Al-Lu’lu’i, Abu Bakar bin Dassah, Abu Salim Muhammad bin Sa’id Al-Jaldawi dan lain-lain.

Sebagai ahli hukum, Abu Dawud pernah berkata, "Cukuplah manusia dengan empat hadist, yaitu: "Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya"; "Termasuk kebagusan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat"; "Tidaklah keadaan seorang mukmin itu menjadi mukmin, hingga ia ridha terhadap saudaranya apa yang ia ridha terhadap dirinya sendiri"; "Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas pula, sedangkan di antara keduanya adalah syubhat."

Abu Dawud menciptakan karya-karya yang bermutu, baik dalam bidang fiqh, ushuluddin, tauhid dan terutama hadits. Kitab Sunan Abu Dawud adalah yang paling banyak menarik perhatian, dan merupakan salah satu di antara kompilasi hadits hukum yang paling menonjol saat ini.

Tentang kualitasnya ini Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, "Kitab sunannya Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats As-sijistani rahimahullah adalah kitab Islam yang topiknya tersebut Allah telah mengkhususkan dia dengan sunannya. Di dalamnya banyak pembahasan yang bisa menjadi hukum di antara ahli Islam, maka kepadanya hendaklah para mushannif mengambil hukum, kepadanya hendaklah para muhaqqiq merasa ridha. Karena sesungguhnya ia telah mengumpulkan sejumlah hadits ahkam dan menyusunnya dengan sebagus-bagus susunan, serta mengaturnya dengan sebaik-baik aturan. Beliau bersikap hati-hati dengan membuang sejumlah hadits dari para perawi majruhin dan dhu’afa. Semoga Allah melimpahkan rahmat atas mereka dan memberikannya pula atas para pelanjutnya."

Setelah hidup penuh dengan kegiatan ilmu, mengumpulkan dan menyebarluaskan hadits, Abu Dawud wafat di Basrah, pada tanggal 16 Syawal 275 H. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepadanya.
Karya-karya Imam Abu Dawud antara lain: Kitab As-Sunan (Sunan Abu Dawud), Kitab Al-Marasil, Kitab Al-Qadar, An-Nasikh Wa Al-Mansukh, Fada'ilul A’mal, Kitab Az-Zuhud, Dalailun Nubuwah, Ibtida’ul Wahyu, dan Ahbarul Khawarij.


Sumber: republika.co.id dan Ahlul Hadits dan sumber lain

Buang air kecil berdiri?

Saya ingin bertanya hukum untuk buang air kecil berdiri untuk pria yang telah dewasa, sebagai salah satu mengatakan kepada saya, harus buang air kecil sambil duduk?

jawaban

Assalamu alaikum wr.wb.

Para ulama berbeda pendapat berkaitan dengan hukum kencing sambil berdiri.

Sebagian ulama mengatakan tidak harus didasarkan pada sebuah hadits 'Aisyah yang mengatakan, "Siapa yang menginformasikan bahwa Rasulullah buang air kecil sambil berdiri, jangan dipercaya. Karena dia selalu kencing dalam kondisi duduk."

Sementara sebagian ulama lainnya mengatakan Hudzaifah didasarkan pada hadis Nabi tidak pernah pergi ke salah satu tempat pembuangan sampah dan kencing sambil berdiri. Setelah itu ia meminta air diambil ... (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Opini Perakhir lebih kuat. Syekh Muhammad Ahmad Isa mengatakan, "Sejarah A'isyah tidak menunjukkan bahwa kencing sambil berdiri makruh Karena, Aisyah hanya menyampaikan pengetahuan.. Sementara yang lain tidak tahu apa yang dia tahu."

Selain dua teks berurusan dengan konflik di atas, maka diutamakan adalah bahwa diriwayatkan tindakan. Sebab, dia tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh pengusir. Itu hanya menurut hadits Ibnu al-Qayyim A'isyah di atas menunjukkan bahwa Nabi terbiasa buang air kecil dalam kondisi duduk atau jongkok.

Buang air kecil sambil berdiri diperbolehkan untuk memperhatikan dua hal:

      Tentu saja tidak percikan kotor.
      Aurat terlihat orang.

Dan Allah tahu yang terbaik-bish shawab.

Sumber :Koran Muslim

Jumat, 05 Agustus 2011

Menghilangkan Pengaruh Jin

Yayan
Pertanyaan:
Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Ada teman yang mengaku pernah dikasih ilmu kedikjayaan oleh seorang guru di sebuah pesantren (kejadiannya 10 tahun kebelakang). Sekarang ia sering kesurupan karena mendapat masalah.
Pada suatu saat dengan izin dan kekuatan dari Alloh lewat tangan saya Jin itu keluar dan menyatakan taubatnya (ba‘da duhur ia keluar dari jasad teman saya). Namun ketika Ashar teman saya kemasukan lagi oleh jin yang sama. Sampai saat ini kejadian seperti itu terus berulang. Menurut Ustadz apa yang harus dilakukan oleh saya. Wassalam
Jawaban:
Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Itulah salah satu bentuk tipu daya jin. Dia dengan mudah bisa saja berpura-pura tobat dan keluar dari tubuh seseorang dan bilang bahwa tidak akan mengganggu lagi, padahal dia hanya berpura-pura saja. Ini tidak lain adalah merupakan kebiasaan yang sering dilakukannya untuk menipu orang-orang yang ada disekitarnya, termasuk orang yang meruqyahnya. Karena itu biasanya, mereka yang sudah berpengalaman meruqyah umumnya tahu tipu dan trik licik seperti itu. Karena itu ruqyahnya dilakukan dengan tuntas sampai benar-benar jin itu tobat dan sadar.
Setelah itu, pasiennya harus terus dilindungi dari kemungkinan masuknnya kembali jin itu dengan ruqiyah juga. Karena percuma saja bila setelah itu tidak dilindungi, maka dengan mudah jin itu akan kembali lagi atau bisa juga jin lainnya.
Wallahu a‘lam bis-shawab. Wassalamualaikum Wr. Wb.
sumber:http://www.syariahonline.com/v2/aqidah/menghilangkan-pengaruh-jin

Tata Cara Sholat Taubat

Assalamu 'alaikum Wr.Wb.
Mohon penjelasannya ustadz tentang cara sholat taubat yang sering di lakukan oleh Rasulullah SAW yg di jelaskan dalam hadits beserta do'a-do'a nya? Kemudian saya pernah baca ketika sholat taubat, kita di anjurkan untuk sujud lagi dan mengingat dosa2 kita yang lampau setelah tasyahud akhir sholat tersebut, apakah benar ustadz?
Jazakumullah khayr
Wassalamu 'alaikum wr.wb
Taufiq, Jakarta
Assalamu alaikum wr.wb.
Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah seorang hamba berbuat dosa lalu ia berwudhuk dengan benar dan menunaikan shalat dua rakaat, lalu meminta ampunan kepada Allah, kecuali Allah akan memberikan ampunan kepadanya." (HR Abu Daud).
Ini adalah hasil tentang shalat tobat. Adapun caranya sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas maka dengan shalat dua rakaat seperti shalat yang biasa dilakukan. Lalu setelah itu ia meminta ampunan kepada Allah. Tidak ada bacaan surat khusus yang disebutkan oleh Rasul saw. Artinya orang yang melakukan shalat tobat boleh membaca surat apa saja dari Alquran. Juga tidak ada tambahan sujud khusus sesudahnya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb.
sumber:http://www.syariahonline.com/v2/shalat/tata-cara-sholat-taubat

Apakah Malaikat Bersayap?

Ninu - Bandung
Pertanyaan:
Assalamu‘alaikum wr. wb. Saya ingin bertanya, dalam al-quran surat al-Faathir (35) ayat 1, dikatakan bahwa malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Bagaimana kita menerangkan secara ilmu pengetahuan maksud dari kata mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat? Atas jawab ustadz saya ucapkan terima kasih, Jazakallah. Wassalam
Jawaban:
Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Sebelumnya kita perlu kembali kepada pengertian awal tentang makhluq ghaib. Namanya saja sudah ghaib, maka otomatis hukum-hukum fisika yang berlaku jauh berbeda dengan yang kita kenal. Iptek yang kita kenal sekarang ini jelas tidak memadai untuk menjelaskan wujud para malaikat itu. Toh bumi ini hanya sebuah titik kecil di tengah semesta raya. Bila kita berandai-andai, seandainya nun di luar sana ada peradaban tinggi milik ّalienْ, barangkali peradaban dan iptek kita dianggap mereka sebagai peradaban sangat purba. Saking purbanya, mereka tidak ingin memperkenalkan diri ke peradaban kita ini agar tidak terjadi gejolak di tengah peradaban manusia ini.
Bila kita mengangap bahwa alien itu ada, kita bisa bayangkan bahwa semua yang kita miliki dalam iptek kita ini menjadi sesuatu yang sama sekali tidak berarti. Nah bila kita kembalikan pada ّduniaْ para malaikat, tentu saja semua penjelasan nalar teknologi kita ini sama sekali tidak masuk hitungan untuk dimensi mereka. Kalau pun Al-Quran dan As-Sunnah menceritakan bahwa para malaikat itu mempunyai sayap, bisa terbang, memenuhi langit dan lain sebagainya, maka kita wajib percaya atas semua itu. Namun tentang bagaimana penjelasan logikanya, jelas bahwa level iptek kita tidak nyambung untuk menerangkan semua itu. Karena dunia dan dimensinya berbeda jauh.
Wallahu a‘lam bis-shawab. Waassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
sumber:http://www.syariahonline.com/v2/

Cari Blog Ini

Paling Populer

Source : http://adibey.blogspot.com/2010/07/cara-membuat-recent-comment-di-blog.html#ixzz1Qa830wmG